Aku minta maaf, sungguh maafkan aku.
Aku sudah berkata bahwa perasaanku sudah berakhir namun aku masih tetap bertahan.
Maaf karena aku masih mencintaimu meski kamu tidak mengetahuinya.
Maaf terkadang aku merindukanmu tanpa permisi.
Maaf aku masih memaksa untuk bisa disampingmu meski kamu terus berlari.
Satu hal yang harus kamu tau, aku disini sedang berjuang mendapatkan hatiku kembali, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah bersikap seolah kita adalah sebatas teman yg tidak pernah mengenal sebelumnya.
Jika itu pilihanmu maka biarkan aku berada dalam pilihanku.
Biarkan aku tetap mencintaimu walaupun kamu tidak mencintaiku kembali.
Biarkan aku merasakan rindu ini walau kamu tidak akan membalasnya.
Biarkan aku terus begini hingga aku lelah dan berhenti.
Kumohon, biarkan perasaanku berjalan sendiri dan berhenti sendiri pada waktunya.
Aku gatau sampai kapan harus terus mencoba tegar?
Sampai kapan aku terusan memilihnya sebagai tokoh utama dalam tulisan?
Di saat dia yang aku tangisi sudah berbahagia dengan lain hati.
"Dia tidak merasa rindu dengan hadirnya dirimu"
"Dia sudah tidak lagi mengirim pesan sapaan meski hanya beberapa kesempatan"
"Dia sudah kembali bernyanyi, bukan untuk dirimu, tapi untuk wanita barunya yang sangat ia puja"
"Dia sudah meninggalkanmu secepatnya" Sadarlahđź‘€
Dan aku dengan segala kebodohan yang aku punya, masih terus berharap akan hadir dirinya?
"Sampai kapan kau mau jadi penonton kisah asmaranya?"
"Atau bahkan kelak ketika dia sudah berdiri di altar pernikahan, kau masih berharap ada keajaiban datang yang mengubah isi hatinya dalam waktu sedetik?"
Bodoh, iya aku sangat bodoh.
Aku ternyata sudah menjadi budak cinta.
Aku hanyalah pemain figuran yang tidak lagi dibutuhkan dalam kisahnya. Akan kuingat itu